Monday, May 31, 2010

Terimakasih, Allah

Allah,
terimakasih.
Aku minta satu, Engkau berikan dua.
Kau jawab dua doaku.
Dua harapan terbesarku.
Permudah jalanku ya Allah.
Biar pilihanku tepat.
Biar aku tidak menyesal nantinya.
Amin.

Sunday, May 30, 2010

Back to School


Bismillahirrahmanirrahim,
Ya Allah, semoga harapanku yang satu ini Engkau kabulkan.




Aku ingin sekolah lagi.




Amin!

Cemburu dan Janji

Masalah yang (kayaknya) lumrah banget dan sering banget terjadi di dalam suatu hubungan adalah 2 hal ini. Cemburu dan Janji. Biasa terjadi, tapi selalu saja jadi masalah. Selalu membuat suasana hati terjun bebas.

Betul?

Dalam selang 3 hari ini, ada 2 orang yang cerita sama aku.
Yang 1 sahabatku, yang 1-nya sepupuku.
Yang 1 mengalami masalah seputar cemburu. Yang 1 soal janji.

Si sahabat (sebut saja A) dicemburui sama seorang perempuan. Si perempuan ini pacar dari sahabatnya si sahabat (sebut saja B). A dan B sudah bersahabat sejak awal kuliah. 4 hampir 5 tahun kuliah bareng, banyak hal yang dilewatin bareng. Banyak hal yang udah saling diceritain.
Semenjak kuliah selesai, si A kerja di Jakarta, si B ..... (hmm, jujur, aku agak kurang tau posisi si B sekarang dimana). Karenanya satu-satunya hal yang mereka bisa lakukan adalah saling menjaga komunikasi. Sesekali telfon atau SMS. Sesekali chatting. Tanya kabar, atau sekedar saling bercerita.

Si perempuan ini cemburu sama A. Mungkin karena keakraban dan kedekatan si A dan si B, mungkin itu membuat si perempuan jadi jengah. Mungkin si perempuan merasa ada sesuatu yang dia tidak tau.
Si A pusing. Kenapa harus cemburu. Karena katanya si A dan B juga sekarang tidak sedekat dulu. Jangan untuk bertemu yang frekuensinya bisa dihitung dengan 1 tangan, itupun jari tidak habis untuk menghitungnya. Apalagi SMS atau telfon.

Aku gak mau bela salah satu dari keduanya. Aku tau perasaan keduanya. Aku pernah ada di posisi keduanya.
Jadi si perempuan, wajar merasa cemburu dengan perempuan lain yang akrab dengan pacarnya. Takut kehilangan, takut direbut, takut tersisihkan. Takut karena merasa posisinya tidak aman. Karena hati orang siapa yang tahu. Ya kan? Mulut bisa bicara beda dengan hati.
Jadi si sahabat, wajar jadi kesal dan pusing 7 keliling. Merasa tidak salah, karena persahabatan mereka murni persahabatan. Merasa selalu dipermasalahkan untuk sesuatu yang dia rasa seharusnya tidak jadi masalah.

Masalah cemburu tidak pernah mudah cari jalan keluarnya.
Jadi si pacar, mau berusaha mengerti dengan persahabatan yang sudah dijalin pacarnya dengan si A. Pasti sulit. Karena masih menang rasa takutnya.
Jadi si sahabat, mau berusaha mengalah karena tau rasanya cemburu seperti apa, tapi rasanya sudah cukup banyak mengalah dengan sangat menjaga jarak.

Aku disini tidak untuk memberi solusi. Tidak untuk membela salah satu pihak. Cuma menyediakan telinga untuk mendengar keluh kesah. Karena semuanya kembali lagi ke masing-masing. Kembali ke hati masing-masing untuk mencari jalan bagaimana cara mengatasi kecemburuan yang menyala-nyala.

Tentang si sepupu. Dia beberapa hari yang lalu dijanjikan sama seorang laki-laki, katanya si laki-laki mau berkunjung, mau bertemu. Ya sudah, si sepupu meluangkan waktunya. Siap untuk bertemu. Tapi apa jadinya? Seharian tidak ada kabarnya.

Bukannya si sepupu berharap setengah mati mau ditemui. Bukan pula dia yang meminta si laki-laki untuk datang dan menemuinya. Tapi dia gak suka dengan sikap sesorang yang sudah berjanji kemudian tidak menepati janjinya dan tidak memberi kabar. Mengutip kata-kata si sepupu, "dia harus memahami bahwa aku adalah orang yang berkomitmen terhadap janji"

Dan sebagaimana aku mengutip komentarku sendiri, "Semua orang juga pastinya punya komitmen yang tinggi dengan sebuah janji. Semua orang pasti berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi janjinya. Tapi yang selalu jadi permasalahan adalah, apakah orang yang memberikan janjinya itu berpikir hal yang sama. Begitu kan? Kita yang dijanjikan pastinya akan menunggu, dan (seharusnya) yang memberi janji berusaha untuk memenuhinya. Aku juga paling ga suka kalau ada yang janji sesuatu, terusnya gak ditepati. Aku lebih menghargai orang yang janji lalu terlambat menepatinya dan meminta maaf, daripada yang ingkar dan tidak merasa salah."

Janji adalah suatu hal krusial yang wajib untuk dijaga. Janji adalah sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Selama kita masih punya hati, aku rasa kita akan merasa sangat tidak enak seandainya harus sampai mengingkari janji. Harusnya merasa sangat bersalah seandainya sudah membuat orang menunggu dan mengharapkan sesuatu yang sudah dijanjikan.

Meminta maaf bukan hal yang sulit. Memang janji tidak akan semudah itu dihapus dengan 1 kata maaf. Tapi maaf memperbaiki keadaan. Maaf membuat kita tau, bahwa orang itu menyesali perbuatannya, terlebih menyesali bahwa dia harus sampai ingkar janji.

Buat aku pribadi, sekali orang membuat sebuah janji. Aku akan menunggu sampai janji itu dipenuhi. Janji adalah janji. Aku hargai setiap tetes keringat yang keluar untuk memenuhi janji itu. Buatku janji sekecil apapun yang sudah dipenuhi, aku beri penghargaan tertinggi di hati aku. Jadi berhati-hatilah membuat janji.

Berhati-hatilah, jangan buat seseorang sedih karena cemburu apalagi karena ingkar janji.

This Way, We'd Be Close Each Night

I always love to sleep next to my man. He comforts me, he's hands are so warm. But, unfortunately, I cannot do it everyday and every night.

So, I was browsing through my Tumblr this morning, then I found this. The picture just caught my eyes.


At first, I didn't notice the glowing pillow nor the caption below the picture. I just found how cute the linens are. Then, as I read it thoroughly, i realized, it's more than an ordinary pillow. And it's no longer about the linens anymore.

It is a Pillow Talk. No, it is not a pillow which can talk. It's just named that way. As i quoted the first line of it's article, Pillow Talk is a project aiming to connect long distance lovers. It glows as an indicator of our partner's presence and when we lay our head on the pillow, we could hear our partners heartbeat.

How cute is that?
I want one!! I want oneeee!!!!

Saturday, May 29, 2010

Selamat Nyemplung!

Selamat pagi Karimun Jawa! Hari yang cerah pastinya disana.

Kenapa Karimun Jawa yang saya sapa duluan pagi ini? Karena hari ini 4 Buddies saya sudah ada disana. Siap melewatkan long weekend kali ini untuk Dive Trip. Menyenangkan pastinya. Saya berani jamin.

Jangan tanya betapa irinya saya.
Dengan penuh keyakinan saya bilang, kali ini mungkin bukan kesempatan saya. Tapi kali berikutnya , saya pasti akan bisa ada bersama mereka. Entah di laut sebelah mana di belahan dunia ini.

Lebih baik saya hapus segala rasa iri yang saya punya ini, dan mulai menabung. Karena trip berikutnya, saya akan ikut, dan kami akan buat orang lain yang iri!

Have a nice Dive, Buddies!
Say hi to the ocean for me, okay?

Thursday, May 27, 2010

I Don't Wanna Sleep Alone

Good night, sleep well. Hold me tight all night, please.

Waiting

Yes, I will wait. I will wait until my time is over.

I will wait until you see me.

Kamar Nomor 10

Kemarin sore, aku jejakkan kembali kakiku di kamar nomor 10 itu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak kesana. Kamar itu rasanya berbeda sekarang. Wanginya beda. Suasananya dingin. Tidak seperti yang aku kenal.

Kamar itu terasa asing.

Entah kenapa jadi begitu.
Mungkin karena pemiliknya juga sudah jarang menghabiskan waktu didalamnya. Atau mungkin karena aku yang jarang mengunjunginya.

Aku rindu perasaanku setiap kali masuk ke dalam kamar itu. Kamar itu selalu hangat. Selalu bisa buat aku merasa nyaman. Kamar itu selalu buat aku merasa enggan meninggalkannya. Aku selalu ingin ada didalamnya terus. Aku selalu ingin segera kembali. Aku kangen waktuku yang banyak terlewat disana. Dengan semua cerita yang terangkai.

Aku suka kamar itu. Aku jatuh cinta pada kamar itu. Sebagaimana aku jatuh cinta pada pemiliknya. Gelak tawa dan cerita panjang selalu jadi penghias kamar itu. Sesekali kamar itu jadi tempat aku tuangkan perasaan tak menentuku. Kamar itu tempat yang istimewa bagiku.

Terakhir aku kesana, kamar itu rasanya sepi. Aku tidak suka.
Besok aku akan kesana, aku ingin kamar itu kembali jadi kamar yang kukenal.

Where we love is home. Home that our feet may leave, but not our hearts. ~ Oliver Wendell Holmes, Sr.

Wednesday, May 26, 2010

Daun Semanggi Berhelai Empat

Juni 2009. Saya resmi jadi teman dia di Facebook saya.

Perempuan ini, belum pernah saya temui selama ini.
Tapi dia tidak asing. Tidak asing di telinga, tapi asing di mata.
Namanya sering disebut dalam rangkaian kisah yang diutarakan seorang Tante.

Perempuan ini mungil, begitu menurut pengakuannya.
Tapi hatinya lapang. Pikirannya luas.

Berawal dari satu dua kalimat yang saling kami tukar di dinding situs pertemanan itu.
Lama-lama ada rasa ingin lebih banyak bertukar kata.
Sarana lain kami mulai coba, Yahoo! Messenger jadi pilihan.
Siapa sangka, malam itu jadi malam panjang dengan sejuta huruf bertebaran di layar.
Dan siapa kira, sejak hari itu, persaudaraan kami dibumbui persahabatan.

Sampai hari ini, belum juga aku bertemu dengannya.
Tapi ceritanya selalu mampir.
Inboxku selalu diwarnai olehnya, warna ceria selalu ditorehkannya, sekali dua kali dia memilih warna gelap.
Dan ceritaku tak pernah lewat untuk singgah dimatanya.

Dia tempatku mengadu.
Aku tempatnya bercerita.
Dia tempatku berbagi.
Aku tempatnya berkeluh.
Marah kami limpahkan, sedih kami luapkan, senang jadi pesta kami.

Kami belum bertemu secara fisik, tapi kami bertemu setiap hari lewat kata.
Mencari celah, dan membaca kata yang janggal. Karena lewat kata, kami lihat ada sesuatu.
Mata jadi indera kami yang paling peka, jari-jari kami yang jadi paling lincah menyemangati.

Dia pernah bilang, "aku selalu ada untukmu",
dan dia penuhi kata-katanya.

Aku bersyukur kenal dia.
Aku senang perempuan ini jadi sahabatku.

Perempuan ini sepupuku.
Perempuan ini bernama Agitya Yanifa Putri.
Perempuan ini Daun Semanggi Berhelai Empat-ku.

Tuesday, May 25, 2010

Peluk

Malam ini aku ingin ada di pelukanmu. Menyandarkan kepalaku di bahumu. Dan tanganmu mengusap lembut, seolah berkata "Tenang saja, aku disini"

Kamar Mandi, Tempat Menangis

Aku sering nangis kalau lagi di kamar mandi. Dan bukan cuma kamar mandi di rumah.

Bukannya aku cengeng. Bukan juga aku selalu menyelesaikan masalah dengan nangis.

Kadang, aku cuma pengen meluapkan semuanya aja. Aku gak mau teriak-teriak. Semua orang nanti dengar. Aku gak mau setel musik keras-keras terus ikut nyanyi sambil joget-joget. Nanti dibilang berisik.

Lega selega-leganya setelah nangis? Belum tentu. Tapi lebih sesak lagi kalau saya gak tau harus apa, gak tau harus gimana, gak tau mau apa, dan gak bisa ngeluapinnya.

Kenapa harus dikamar mandi? Alasannya sederhana. Kamar mandi satu-satunya tempat paling pribadi, dimanapun kita berada. Rumah sendiri, kosan pacar atau temen, restoran, mall, dimana pun itu. Sekali kamu ada di dalam kamar mandi, atau booth toilet di mall, gak akan ada yang masuk dan mengganggu kamu. Ya tentunya kecuali kamu udah 3 jam disitu dan gak kunjung keluar.

Bathroom is the most private place, because it's the place where you do your bussiness. And in this term, it includes crying.

Sunday, May 23, 2010

Wanita yang Beruntung, dan Aku yang Iri

Saya kenal dua pria ini seumur hidup saya. Keduanya pria yang jadi acuan saya. Mereka adalah dua pria yang selalu bikin saya rindu, dan enggan jauh dari mereka. Mereka dua pria hebat yang sangat mempengaruhi hidup saya.

Dan saya jadi saksi betapa dua pria ini mencintai wanitanya masing-masing.

Pria pertama, pekerja keras yang sabar. Belum pernah aku lihat beliau marah, belum pernah aku aku lihat beliau menangis. Aku tau, beliau pernah kesal, beliau pernah sedih. Tapi dia hanya tak mau aku melihatnya.

Yang aku selalu lihat, dia sayang sepenuhnya sama kami.

Besok wanita yang dicintainya ulang tahun. Pagi ini aku pergi mengantar beliau membeli hadiah untuknya. Dipacunya mobil menuju toko buku, beliau hanya ingin membelikan sebuah buku sebagai hadiah.
Buku selalu menjadi hadiah dari beliau. Dan halaman pertamanya selalu dihiasi tulisan tangan beliau yang khas.
Buku selalu jadi pilihan pertama sebagai hadiah. Karena si wanita selalu senang, dan suka sekali buku. Dan beliau tau persis itu.
Buku yang dipilihnya tak pernah salah. Beliau tau persis apa yang disenanginya. Dan ingat semua buku yang sudah pernah dibelikannya.

Di mataku, yang tertangkap adalah betapa sederhananya. Tapi penuh cinta. Penuh perhatian.

Saya hanya bisa iri. Saat saya tautkan tangan saya pada tangan beliau, dan berjalan berdampingan. Saat saya duduk di sampingnya sepanjang perjalanan. Saat saya berbagi cerita tentang beliau dan wanitanya. Ingin, ingin saya merasakan yang wanita itu rasakan. Saya berani bertaruh, wanita takkan mau menukar itu semua dengan apapun.

Pria kedua, sifatnya mirip. Sama pekerja kerasnya. Sama perfeksionisnya.
Tapi aku sudah pernah lihat di marah, sedih pun pernah. Cerita hidupnya sebagian ada yang dicurahkan padaku.

Waktu si wanita ulang tahun, dia belikan hadiah untuknya. Dia belikan sebuah benda. Yang jadi simbol doa dan harapan agar si wanita bisa melaksanakan dan mewujudkan impiannya.

Hari ini dia meluangkan waktu bersama wanita yang dicintainya. Di sebuah kota menuju timur di Pulau Jawa ini. Dia punya waktu yang singkat sebelum entah kapan lagi dia bisa punya waktu untuk dirinya sendiri apalagi untuk bertemu dengan si wanita. Dan dia manfaatkan dengan baik. Tak peduli lelahnya.

Semalam dia bilang ke aku, bahwa dia lagi mau menemui wanitanya. Saya haru, sekaligus senang dengarnya. Aku tau persis dia rindu si wanita. Aku tau persis dia hanya ingin bertemu. Hanya ingin punya waktu bersamanya.

Aku tau, banyak hal yang sudah mereka lalui. Jangan dikira semuanya hanya bahagia. Tidak. Tapi toh, sampai hari ini mereka masih juga sama-sama. Artinya mereka berhasil melewati semuanya.

Lagi-lagi iri. lagi-lagi saya hanya bisa iri.


Aku merasa kedua wanita ini sungguh beruntung. Apa aku akan mengalami yang mereka alami? Apa suatu saat nanti, akan ada yang iri denganku karena apa yang seorang pria lakukan untuk aku? Untuk perhatian, pengorbanan, kerelaan, ketulusan dan cinta pria ini padaku.

Semoga jawabannya adalah iya.
Dan semoga satu pria ini, yang menjawabnya. Yang melakukan sesuatu sebagai ganti jawaban iya.







Dan iya. Kedua pria ini adalah Romo saya, dan kakak saya.

Saturday, May 22, 2010

Bosan, Jenuh, Saya Mau Apa?

Bosan. Saya bosan luar biasa. Saya jenuh setengah mati.
Atau memang saya sudah mati?
Mati dari kehidupan yang hiruk pikuk.
Hilang dari kesibukan dunia.

Ah, mulai saya meracau.
Iya, saya bosan berkawan sama benda mati. Bukannya saya tidak butuh mereka, saya butuh. Sangat malahan. Terlebih karena teman saya yang punya kemampuan bernafas, bergerak, tumbuh dan berkembang, serta ciri lainnya yang membuktikan bahwa mereka betul makhluk hidup entahlah dimana. Sibuk mungkin. Yah, semua punya kesibukannya masing-masing. Tidak seperti saya.

Saya bangun setiap harinya untuk melakukan rutinitas yang sama. Setiap harinya. Yang membuat beda hanya, apa hari itu saya mau keluar rumah atau tidak. Dan sudahlah pasti saya akan sendiri kalaupun pergi.

Bukan saya gak bisa pergi sendiri. Tapi bukannya kita ini sebagai manusia tercipta sebagai makhluk sosial? Bukannya sejak SD bahkan TK itu sudah ditanamkan dengan sangat baik pada kita semua? Saya masih butuh manusia lain untuk berjalan di samping kiri-kanan saya. Yang ikut berkomentar untuk sesuatu yang kita liat, atau sesuatu yang kami anggap menarik/aneh (ini batasnya terlalu tipis).

Layar - TV, komputer, Handphone - bukan lagi menjadi sesuatu yang teramat menyenangkan untuk ditatap. Saya bosan liat acara TV yang kalau bukan sinetron pasti reality show. Bahkan keduanya gak ada bedanya. Komputer, apa yang dilihat? Browsing? Twitter? Facebook? E-mail? Game? Bosan! Itu terus yang dilihat. Handphone, apa yang mau dilihat? Berbunyi saja tidak. Sekalinya bunyi, apalagi kalau bukan dari provider yang terus-terusan promosi.

Lalu sekarang mau ngapain lagi? Masak? Siapa yang mau makan? Tidur? Udah kebanyakan. Telfon? iya 5 menit ketawa haha hihi, selanjutnya basi lagi.

Gak mau bilang pengen mati aja, karena nanti kalau di kabulkan sama Allah, pasti saya nyesel udah ngomong begitu. Tapi saya harus apa sekarang kalau begitu?

Friday, May 21, 2010

Random

So, this afternoon I was sitting on a bus heading home. then some random things starts bursting from everywhere. Some things I just found out, or realized it to be exact. And it's all about myself.

I have no problem at all being alone in a crowd. Name it, eating alone in a full restaurant. Go to a mall alone. Hanging in a coffee shop all by myself. Non of it become a problem. As long as I have a book and my Ipod is fully charged.

While, I found it a very big issue when I'm being left alone. Being neglected. Or ignored. I just can't stand it.

I easily felt lonely, and sometimes thinks nobody needs me. When those moment come, I'd think that I am perfectly lonely.

I amuse myself by playing games, finding new recipes, cooking and reading. All while listening to music.

I definitely can live without TV not without an Internet. But I still need my DVD Player.

I hate when things I've tidy up, being messed up by some other people. I don't like when people moved my things. I hate when people step on the floor I've mop. And I'd gone mad, when someone use my belongings without asking first

I'm very moody. My mood could swing so fast. It could be in the top of the mountain and in a second it'll be in the deepest sea.

I am a very sarcastic person. Especially when I'm mad. Just don't expect me to be nice to you in words, nor behaviour. My words could hurt your feelings, as a newly sharpen knife cuts your skin.

It really bothers me, when text messages I've sent aren't replied and phones aren't picked up. So be aware to your cellphone, mates. Any minute I call or text you, I expect you to notice. This is one of many things which could affects my mood badly.

I'm easily excited on things. Especially when it came to new things. New experiences. New friends. New environments. Anything new.

Yet, I'm easily bored. Monotonous routine could kill me.

I do individual sports. Swimming and running. On my sport days, twice a week, sometimes three times. I do both on the same day. Fatigue it is. Yet, I still find it extremely good to feel.

I have to read something while doing business in the toilet. A book, a comic, a newspaper, a magazine, anything. When I'm in a hurry to "go", I'll go panic if I don't find anything to read, and I'll end up bringing my cellphone and go browsing.

I like to wear something and it matches all its color. Or at least, their in one tone. I'd never go anywhere dressing in a yellow t-shirt, purple pants, with a red bag and a green shoes.

When I accomplish something, I'll treat myself with food.

I always buy Reader's Digest every month. I always thinks it's very important to have one. And I never could explain why.

I would buy a book in any price, but never for clothes, bags, shoes, nor accessories.

Wednesday, May 19, 2010

Selamat Pagi, Pemilik Hati! Selamat Tidur..

Pagi yang dinamis!

Tadi terbangun jam 4, ada sesuatu yang hilang rasanya. Aku menanti sebuah kabar yang dijanjikan kepada saya tadi malam. Sedih rasanya menemukan kenyataan bahwa yang sudah dijanjikan itu gak ada. Sudah hampir turun semua mood yang aku punya, tapi tiba-tiba, yang ditunggu itu datang. Dan senyum pun mampir di bibir aku.

Senang!

Setiap pagi, begitu aku bangun, cuma 1 yang aku ingat. Gampang ditebak, sudah pasti si pemilik hati. Yap! Sangat benar. Persis seperti status twitter seorang Fira Basuki yang terpampang di timeline pagi ini.
"Selamat pagi cinta. Kamu orang pertama. Yang terlintas di jiwa."
Rasanya bukan setiap pagi aku ingat dan memikirkan dia. tapi setiap saat. Bahkan sekarang! Haha. Gila mungkin ya aku ini. Aku ini lagaknya sudah seperti orang jatuh cinta (emang!) Atau jangan-jangan aku jadi gila karena cinta.

Aku memikirkan dia setiap paginya. Karena kadang aku gak tau dia sudah pulang atau belum. Aku suka khawatir. Gak tenang sampe aku dapet kabar dan tau persis dia dimana. Wajar menurut aku. Margaret Mead aja bilang ;
"Having someone wonder where you are when you don't come home at night is a very old human need."
Kalau aku memikirkan dia ada dimana setiap paginya, artinya aku udah memenuhi kebutuhan dia dong? mencari pembenaran, haha!

Terlepas dari aku mencari pembenaran atau gak. Aku udah tenang sekarang. Pemilik hati sedang bermain di Pulau Kapuk dan merangkai bunga tidurnya. Biar saja, nanti aku bangunkan, sebagaimana tadi dia mengingatkanku.

Sementara itu, aku mau siap-siap! Siang ini tak boleh kalah dinamisnya!

Tuesday, May 18, 2010

dan, tertahan lah...

tercekatlah aku, ketika hendak bertanya.

tanyaku sederhana,



"kapankah aku bisa bahagia?"









jawablah....

Friday, May 14, 2010

Semangat, kenapa tidak mau datang?

Sudah beberapa hari ini, semangat benar-benar enggan untuk mampir di keseharianku. Entah kenapa dia memutuskan untuk libur.

Tanpa semangat, rasanya sepi sekali. Iya, aku tau persis dia sebenernya ada. Dan pasti mau membantu saya apapun keadaannya kalau aku mau mencari dia. Tapi, aku ingin sekali, bukan aku yang harus mengemis-ngemis dan meminta dia untuk menemaniku barang 15 menit saja. Aku ingin dia tiba-tiba muncul. Setidaknya untuk membuat aku kembali bergairah.

Kata si pemilik hatiku, wajahku murung. Tak lagi bersinar dan memancarkan ceria. Aku semakin sedih karena harus membuatnya melihatku seperti ini. Rasanya tak ingin dia tau. Tapi aku selalu gagal menyembunyikan keadaanku. Matanya selalu bisa menangkap dan membacaku. Jangankan matanya, hatinya saja cepat merasakan.

Usap lembut dari tangan si pemilik hati, untuk sejenak berhasil menbuat aku melengkungkan senyum. Duduk diam disebelahnya pun bisa. Tapi aku tak bisa terus memintanya mengusapku, atau duduk disebelahku dan membiarkan aku meletakkan kepalaku di bahunya. Seolah-olah aku tumpangkan sebentar saja bebanku padanya. Yang mana aku titipkan 5 detik saja, dan aku ambil kembali, karena aku tak mau dia yang menjadi sedih.

Seperti sore ini, aku melangkah lemas di jalanan kecil yang becek dan berlumpur sehabis diguyur hujan. Hujan masih turun dengan malu-malu. Menemani aku dan si pemilik hati berjalan. Aku lingkarkan lenganku di lengannya, enggan rasanya melepaskannya. Aku masih butuh didekatnya.

Ah, cape rasanya. Lelah. Linu seluruh tubuhku rasanya.

Aku takut. Takut semangat benar-benar enggan untuk datang kembali. Sumpah, aku takut!

Semangat, dimana kamu? Kembalilah. Kalau kamu tak mau, datanglah tanpa henti kepada si pemilik hati. Biar saja dia yang membaginya denganku.

Time and Date




 

Design by Amanda @ Blogger Buster